Shalawat Nariyah adalah sebuah shalawat yang dibaca sebanyak 4444 kali untuk mendapat karomah dari Allah. Menurut K.H. Mahrus Ali dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik”, sumber dan asal-usul shalawat ini tidak diketahui meskipun beliau telah menelaah buku dan kitab hadits, fiqih, dan tasawuf.

Dari segi isi shalawat, kekeliruan shalawat ini terletak pada bagian: “.. Yang dengannya (Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) segala ikatan menjadi lepas, dengannya segala kesulitan akan lenyap, dan dengannya segala keinginan akan tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi.”. Menurut shalawat tersebut yang melepaskan ikatan, dsb adalah Rasulullah, bukan Allah. Hal ini jelas mengandung syirik dan bertentangan dengan ayat-ayat berikut:
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?'” (Yunus[10]:31).
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’d[13]:14)

Namun demikian, bukan berarti kita anti-shalawat. Kita tetap harus bershalawat pada Rasulullah sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab[33]:56)
dan hadits berikut:
“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” (H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabrani)

Cara ber-shalawat kepada Rasulullah yang terbaik adalah sesuai yang diajarkan Rasulullah pada para sahabatnya. Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah bentuk paling umum dari shalawat. Bentuk shalawat lain adalah
“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi].
Dan masih ada beberapa riwayat lain (termasuk shalawat yang dibaca pada duduk tasyahud) yang menyebutkan bacaan shalawat sesuai yang diajarkan Rasulullah.

Wallahua’lam bisshawab.

Advertisements

19 responses »

  1. a says:

    Teganya mengatakan sholawat nariyah sesat, syirik !

    Published by Syafii on May 20, 2008 06:40 pm under Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait, Artikel Islam, Habib, Renungan

    Banyak sekali artikel-artikel yang ditulis oleh segolongan kaum yang mengatakan sholawat nariyah itu sesat, syirik.

    Padahal sholawat ini ditujukan untuk Rasulullah, tidak ada yang lain.

    Berikut ini jawaban Habib Munzir Al Musawwa mengenai sholawat nariyah

    Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

    Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,

    saudaraku yg kumuliakan,
    mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

    ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

    Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

    semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

    mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

    mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

    demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

    wallahu a’lam

  2. muza36 says:

    @a
    jazakallah khair atas comment-nya
    semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi qta semua 🙂

    Saya tau bahwa shalawat itu ditujukan kepada Rasulullah, namun menurut Anda, bolehkah qta memuji seseorang secara berlebihan sampai2 mensejajarkannya dg Allah?

    Dari Abdillah bin Asy-Syakhkhir, dia menceritakan bahwa ayahnya menceritakan: Datang seorang pria menghadap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Pria tersebut menyatakan kepada beliau: “Engkau adalah sayyid Quraisy.” Maka Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan kepadanya: “Yang dikatakan as-sayyid itu adalah Allah.” Kemudian pria menyatakan lagi kepada beliau: “Engkau itu adalah orang yang paling utama omongannya dari kalangan mereka dan paling agung kedudukanmu. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan: “hendaknya kalian menyatakan tentang aku seperti yang dikatakan oleh Allah (yakni sebagaimana Allah menggelari beliau, yaitu Nabiyullah dan Rasulullah) dan jangan sampai setan menyeret dia kepada tipu dayanya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 4 hal. 24 – 25)

    Dari kelengkapan hadits ini sesungguhnya beliau menolak sikap memuji-muji yang melampaui batas dan yang demikian ini akan memberi peluang kepada setan untuk menyeret yang dipuji maupun yang memuji dalam perangkapnya. (untuk lengkapnya silahkan lihat artikel saya mengenai “sayyidina Muhammad”)

    Mengenai tawassul kepada Rasulullah bukankah ada riwayat ketika mengalami musim kemarau pada masa pemerintahan Khilafah Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, para shahabat tidak bertawassul pada Rasulullah dan lebih memilih bertawassul dengan keshalihan paman Rasulullah (yang saat itu masih hidup), yaitu Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Memang masalah ini menjadi perdebatan para ulama’ namun menurut saya alangkah baiknya jika qta mencukupkan diri dengan yang telah disepakati para ulama’. (untuk lebih lengkapnya silahkan artikel saya mengenai “tawassul”)

    wallahua’lam bisshawab.

  3. Hamba Allah says:

    Afwan akh…kalo bleh antum tk kasih info…ana pernah baca buku yg isinya membahas ttg kebohongan2 buku yang dikarang oleh KH. Mahrus Ali,jdulx klo gk slah=Membongkar kebohongan buku ‘Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik’ karangan KH.Abdullah A.
    Dan perlu diketahui juga,trxta KH.Mahrus Ali itu bukan dari NU…
    Lebih lengkapx antum baca sndiri…!!!
    Afwan…
    Wallahua’lam Bishowab……

  4. muza36 says:

    🙂
    bukan masalah sapa KH. Mahrus Ali (aq pernah denger tp g seberapa tw siapa beliau, malah g pernah baca bukunya :p )

    yg terpenting adalah Rasulullah yg menjadi imam utama dan beliaulah yg tentunya lebih tw mana yg terbaik untuk umatnya.

    jika Rasulullah melarang suatu tindakan dan larangan itu tertuang pada hadits yg memiliki sanad yg kuat (shahih atw hasan) maka, sbg umat Islam, sudah selayaknya untuk menghindari tindakan tsb kecuali ada hadits lain dg sanad yg lebih tinggi yg menunjukkan diperbolehkannya melakukan tindakan tsb.

    Dan, jika pada akhirnya terjadi perselisihan pendapat antar ulama’, silahkan memilih pendapat mana yg menurut antum lebih baik. Saya hanya menyarankan utk berhati-hati dalam menyikapi perkara2 syubhat dan sebisa mungkin mencukupkan diri dg apa yg dihalalkan oleh Allah.

    Wallahua’lam bisshawab..

  5. Muhammad Ilyas says:

    Saya sudah membaca salah satu buku tulisan KH. Mahrus Ali yaitu yang berjudul ‘ Mantan kiai NU meluruskan ritual-ritual kiai ahli bid’ah yang dianggab sunnah “. Penjelasan yang diberikan cukup jelas dan senantiasa didasari dalil dari al-Qur’an dan hadist shahih yang bisa dicek kebenarannya berdasarkan catatan dari kitab apa hadist itu diperoleh. Memang buku karangan KH. Mahrus Ali yang kebanyakan mengulas tentang dugaan banyaknya kekeliruan amalan yang dilakukan oleh ichwan-ichwan kita yang biasa mengamalkan hal tersebut membuat mereka sakit hati. Baik itu dari golongan bawah yang awam sampai para pemimpin ummatnya. Menurut saya, apa yang dikemukakan dalam tulisan KH. Mahrus Ali merupakan kajian ilmiyyah yang menggugah kita untuk introspeksi diri tentang amal ibadah kita sudah benar sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya apa tidak. Ataukah selama ini kita hanya mengikuti perilaku/amalan ibadah orang tua atau kiai di lingkungan kita tanpa tahu dasar hukumnya. Padahal dalam surat Al-Isra’ ; 36 Allah mengingatkan kita agar jangan melakukan sesuatu amalan yang kita tidak tahu ilmunya. Jika ada perbedaan, kembalikan segala sesuatunya kepada tuntunan Allah (Al-Qur’an yg tidak ada keraguan di dalanya) dan rasulnya (hadits yang shohih tentunya). Jangan diselesaikan dengan cara kekerasan, saling menghujat, menuduh orang dari golongan ini-itu tanpa tabayyun lebih dahulu. Harusnya adakan pertemuan dalam suatu majelis ilmu untuk mengkaji perbedaan itu. Bahas dengan fair, dengan pikiran jernih tanpa didasari keinginan untuk membela golongan. Tujuannya hanya satu ; mencari kebenaran “. Jangan memikirkan kalah atau menang. Jika tetap ngotot……, silahkan amalkan sesuai keyakinan masing-masing, LANA A’MALUNA WALAKUM A’MAALUKUM. Allah-lah yang menilai amalan kita. Tetap jaga ukhuwah sesama muslim.

  6. keciq marqum says:

    🙂 lam kenal dlu pak? banyak versi yang dikeluarkan umat kita ada yang menganggap membaca sholawa nariyah itu syirik ada yang mengganggap itu sah sah saja,…

    kalau menurut pendapat secara pribadi melafalkan sholawat nariyah itu sah sah saja asal dengan niat mendo’akan keselamatan atas nabi Agung kita … rosululloh…

    kenapa kita selalu mencari makna yang terkandung didalamnya… banyak dari umat islam yang tidak mengerti akan makna sholawat ini. mereka asal melafalkan dengan niat mendo’akan keselamatan didunia dan akhirat.. serta mengharap syafaat dari rosululloh…

    kenapa kita selalu memberatkan hal-hal yang sebnarnya sepele… bagaimanapun itu dari manapun itu.. kalau diniati dengan baik maka hasilnya juga akan baik… bukankah innamal a’malu bin niat…

  7. muhara says:

    Nabi sendiri telah memberi contoh bagaimana shalawat dan pujian yg tepat terhadap beliau. Shalawat yg dicontohkan Nabi tersebut lebih simpel, mudah dan ringan diucap serta dimengerti daripada shalawat nariyyah dll. Saya heran mengapa masih ada orang yg kurang puas terhadap contoh dari Nabi. Lagian, apa susahnya sih, apa ruginya kalo cuman membaca shalawat dari nabi tsb? Padahal janji pahalanya telah jelas.

    @keciq

    apabila ada orang yg baru kenal anda trus tanpa sengaja salah memanggil nama anda meski maksud & niatnya baek, anda mendenganya juga aneh kan? Disitulah masalahnya, ketidak tepatan. Kalo anda saja mendengarnya merasa ga enak, apalagi Allah SWT. Masih mending kalo Allah SWT cuman ngecuekin bacaan yg salah itu.

  8. Andi says:

    Mengenai shalawat ini dan itu, semua merasa punya dalil. Yang melaksanakan merasa punya dalil dan bisa diterima. Yang lain berpendapat tidak boleh dilaksanakan karena SYIRK, juga punya dalil. Akhirnya dalil yang bertempur. adapun yang sebaiknya kita lakukan adalah kita menelaah terlebih dahulu sesuatu itu secara tekstual dan kontekstual, Saya hanya ingin memberi contoh satu kata. Kata CINTA yang ditujukan kepada Allah SWT dan RasulNya SAW bersih dari syahwat. Dengan kata yang sama ditujukan kepada orangtua juga demikian, akan tetapi ketika seseorang menujukan kata yang sama ini kepada lawan jenis dan halal untuk dinikahi, maka maknanya berbeda. Secara tekstual sama, tetapi konteksnya berbeda. Inilah yang dimaksud oleh salah seorang poster di atas sebagai KIASAN. Jika sekiranya semua orang memiliki pengetahuan yang sama dan sebangun, maka tentu tidak perlu ada perbedaan pendapat. Persoalan ini sesungguhnya hanyalah masalah persepsi subjektif terhadap suatu kata atau kalimat atau paragraf dari suatu teks doa.
    Jika saya memakai baju merah, tidak serta-merta saya bisa dipastikan mendukung suatu partai dengan ciri khas merah, begitupun dengan warna-warna khas dari partai yang lain.
    Saya secara pribadi lebih sepakat dengan uraian POSTING PERTAMA di topik ini. Kiasan, kiasan, kiasan, dan harus dipahami dengan kata kiasan.
    Mengenai saudaraku yang mulai yang mengikatkan diri dengan keyakinan bahwa cukuplah contoh shalawat dari Rasulullas saja, ini pun benar. Adapun mengenai shalawat yang di ‘ciptkan’ oleh para ulama terdahulu seperti shalawat Nariyyah, harus dikaji secara mendalam baik secara tekstual, maupun kontekstual. JIka kita hanya bertumpu kepada TEKSTUAL saja maka kita akan sangat mudah terperosok kedalam keadaan SALAH PAHAM. Sebaliknya jika memandangnya secarakontekstual saja maka harus didukung dengan pemahaman yang mendalam tentang proses lahirnya shalawat tersebut.
    Jika saudaraku yang mulia yang bertumpu kepada hadis yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak ‘senang’ dipuji maka itu karena kerendahan hati berliau sebagai manusia termulia di muka Bumi ini. Coba kita tengok al-Qur’a Mulia, Apakah Allah tidak berlebihan memuji Rasulullah SAW dengan kata “WA INNAKA LA’ALA KHULUWQIN AZHIM”. Atau pernyataan Kahlifah Ali bin Abi Thalib RA. yang mengatakan, :”Janganlah engkau terlalu pelit kepada saudaramu sehingga tidak memujinya sepantasnya, dan jangan pulu terlalu boros dengna memujinya dengan sesuatu yang tidak pantas untuk diterimanya.” (Nahjul Balaghah).
    Jadi, marilah kita melihat setiap persoalan dengan menyeluruh sebelum menjatuhkan VONIS kepada sesuatu. Salah satu ajaran Rasulullah adalah Tabayyun yang menyeluruh, kita harus mendengar penjelasan dari kedua belah pihak yang betikai tentang suatu hal, bahkan sangat dianjurkan saksi dalam hal ini.
    Dalam konteks topik ini maka tabayyunnya adalah Al-Qura’an, Hadits-hadits Nabi SAW, penjelasan ulama terkemuka zaman dahulu sampai sekarang tentang hal ini. Tidaklah cukup hanya dengan mengatakan bahwa ada hadis ini dan itu yang mengatakan ini dan itu. Bukan kah hadits juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda? Dan tentu saja kita hanya akan mengakui dan mengikuti hadits yang secara menyeluruh sesuai atau paling dekat dengan Al-Quran Mulia.
    Secara pribadi saya berpendapat, tidaklah pantas menghakimi seeorang hanya dengan melihat hadits secara TEKSTUAL.
    Hanya Allah SWT yang Mahatahu, semoga Allah membuka pintu-pintu kebaikan bagi kita semua, aaamiiin

  9. RAWAD says:

    ya sudah…. klo ada coba cicipin dulu sholawat nariyah dg ijazah dari kyai yang sudah istiqomah mendawamnya…. insya Allah berkah datang saja ke cianjur disana ahli sholawat nariyah…. kyainya bernama KH. Abdul Haqnuh alm.

  10. za ahmed says:

    haduh… mengharamkan shalawat nariyah,ngaji balaghah ga sih…!
    kasiann ente.. ane yakin ente jg mengharamkan tahlil,maulid nabi,marhabaan dsb kan… duh jngn buat artikel yg kaga jelas ente tau dasar hukumnya dong… pesantren dulu di bale rombeng (kobong),yg makannya nasi liwet sama ikan asin.. jng pesantren yg kaya tinggal dihotel.. kaga berkah hidup ente klo ngeharamin shalawat nariyah mah..!!!!! kaga tau karomah aang gentur ye… kaji yg bener tentang shalawat nariyah.. tanyanya sama ulama ahlusunah wal jamaah.. jngan sama ulama wahabi..! mudah-mudahan ente diberikan taufik dan hidayah sbelum ente disidang nanti… amin…

  11. Mr. Back says:

    he he he

    Suatu amalan itu yg prtama x bisa dinilai adalah dri niatnya….

    sebaik apapun amalan tersebut, kalau niatnya ga baik = bo’ong.

    sama pula dalam memahami sesuatu. termasuk ‘kata-kata’, jangan dinilai dg kasat mata saja…. nilailah dg maksd n artinya….

    jg dalam memahami siatu ayat/hadis/sholawat. jgn lgsung dibaca kasat mata… tpi nilailah sesuai dg arti yg terkandung didalamnya.. serta niat anda dlam membacanya.

    intinya usahain brpikir positif dlm stiap bersikap.

    tpi semua kembali kpada Anda2 sxn… silahkan dijalani sesuai keyakinan Anda 😀

  12. Mr. Back says:

    he he he

    Suatu amalan itu yg prtama x bisa dinilai adalah dri niatnya….

    sebaik apapun amalan tersebut, kalau niatnya ga baik = bo’ong.

    sama pula dalam memahami sesuatu. termasuk ‘kata-kata’, jangan dinilai dg kasat mata saja…. nilailah dg maksd n artinya….

    jg dalam memahami siatu ayat/hadis/sholawat. jgn lgsung dibaca kasat mata… tpi nilailah sesuai dg arti yg terkandung didalamnya.. serta niat anda dlam membacanya.

    intinya usahain brpikir positif dlm stiap bersikap.

    tpi semua kembali kpada Anda2 sxn… silahkan dijalani sesuai keyakinan Anda 😀

  13. sal ashaf says:

    lebih kotor daripada darah anjing. banyak omong dg dalil2 yang semestinya diturunkan untuk orang kafir akan tetapi dipakai untuk mencari kesalahan saudara muslim, yang padanya kaian menaruh dendam. hati kalian busuk. jangan merasa diri kalian paling benar dan paling tinggi tingkat kedekatan dengan Allah. kapan kalian terakhir kali menangis memohon ampun kepada-Nya? jangan karna kesombongan nafsu dan gelapnya hati sehingga kalian tidak mau mengakui kebenaran faham orang lain. ingat anda bukan Tuhan, anda bukan tangan Tuhan. sampai kapanpun status anda adalah hamba. anda perlu menganali aqidah anda terlebih dahulu daripada mngkritisi pribadatan saudara anda terlebih dahulu. jngn sok suci.

  14. muhammad says:

    Subhanalloh, kebanyakan orang fanatik dengan golongan nya sendiri, kebanyakan merasa benar dengan pendapat nya sendiri, tapi tidakkah mereka semua ingat bahwa kelak akan diputuskan di hari akhirat tentang amal2 manusia, kebaikan akan dibalas berlipat sementara keburukan hanya akan dibalas dengan semisalnya, ikutilah sunnah dan cukupkan diri dengannya pastilah akan selamat diakhirat kelak, meskipun ada diantara anda yang membenci sunnah dan membenci orang yg beramal dengannya maka tidaklah itu akan menjadi kerugian bagi org yg brpegang teguh dengannya, adakah ada diantara anda yg menyadari jika setan tdk akan tinggal diam saja duduk manis melihat manusia beramal sholih, apakah anda mengira menjalani hidup ini mudah saja, hendak lah anda semua waspada dari tipu daya nya, perhatikan diri anda apakah anda mengakui sebagai pengikut nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam, jika anda mengakui nya maka anda harus mengikuti segala petunjuknya, tetapi jika anda mengada ada dalam amalan agama anda apa yg tdk diajarkannya shollallohu ‘alaihi wasallam, ataupun anda membenci orang yang beramal sesuatu yang berdasarkan sunnah shohihah atau menyampaikan sesuatu kebenaran, sementara anda semua sudah lebih tahu duluan dari Allah dengan menuduh bahwa orang yang beramal & menyampaikan kebenaran trsbut adalah orang yg busuk hatinya, pendendam trhadap anda atau trhadap masyarakat, maka tdkkah anda perhatikan sendiri bahwa semua tuduhan kotor dan buruk trsbut akan kembali kpd anda sendiri dan dengan nyata telah menunjukkan bahwa sesungguhnya anda telah diliputi hawa nafsu dan bahwasanya anda tidaklah ingin mengikuti jalan lurus yg telah ditunjukkan oleh rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam sbgaimana dlm hadits nya “maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah sesudahku yg mendapat petunjuk, berpegang lah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi2 geraham kalian, dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena semua bid’ah(ada-adaan) tersebut adalah sesat”, . semoga Allah memberi petunjuk orang yang benar-benar menginginkan petunjuk. kesesatan hanyalah bagi orang yang menolak kebenaran.

  15. djoe says:

    lbh baik tutup aja blog ini…bikin masalah aja…

  16. Isna says:

    ini adalah kajian ttg skripsi ku,,,smg bs mnjd daftar referensi ku,,,,,

  17. […] dengan mengucapkan “Shalallahu ‘Alaihi Wassalam”. Oleh: Yusuf Supriadi Sumber Referensi: 1. https://muza36.wordpress.com/2008/09/10/shalawat-nariyah/ 2. […]

  18. cep says:

    semoga Allah mengampuni dosa kita semua..
    shalawat itu nukan berharap sesuatu dari rasulullah..
    cuma kalo mau diakui sebagai ma’mum rasulullah ya bershalawatlah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s