Lafadh “sayyidina” dalam bahasa arab maknanya ialah sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama berikut ini:
1). Al-Imam Muhyidin Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasqi rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah olehmu bahwa lafadh sayyid itu adalah gelar yang diberikan kepada orang yang paling tinggi kedudukannya pada kaumnya dan paling dimuliakan mereka. Lafadh ini diberikan pula bagi pimpinan dan orang mulia. juga lafadh ini diberikan kepada orang yang penyabar yang mampu menguasai kemarahan dan mampu mengendalikannya. Diberikan pula lafadh sayyid kepada dermawan, dan kepada raja (kepala negara). Juga lafadh ini diberikan oleh istri kepada suaminya. Dan terdapat banyak hadits memberikan istilah sayyid kepada orang yang mempunyai keutamaan.” (Al-Adzkar An-Nawawi, hal. 418, Fashlun fi Lafdlis Sayyid)
2). Al-Imam Majduddin Abus Sa’adat Al-Mubarak bin Muhammad Al-Jazari Ibnul Atsir rahimahullah menerangkan: “Kata As-Sayyid sebagai sebutan bagi Allah, diberikan pula sebagai panggilan bagi raja (kepala negara), orang yang terhormat, orang mulia, dermawan, penyabar, yaitu orang yang sabar menanggung gangguan yang menyakitkan kaumnya. Kata itu juga diberikan bagi suami, juga pimpinan dan orang yang dikedepankan dalam kalangan kaumnya…. (An-Nihayah jilid 2 hal. 418)

Dari keterangan dua ulama tersebut tahulah kita bahwa gelar as-sayyid adalah kehormatan bagi pihak yang digelari dengan kata tersebut. Adapun kenyataan bahwa sebagian orang memahami dilarang memberi gelar sayyidina Muhammad bagi Nabi shallallahu `alaihi wa sallam karena salam paham terhadap hadits Nabi berikut ini:
Dari Abdillah bin Asy-Syakhkhir, dia menceritakan bahwa ayahnya menceritakan: Datang seorang pria menghadap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Pria tersebut menyatakan kepada beliau: “Engkau adalah sayyid Quraisy.” Maka Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan kepadanya: “Yang dikatakan as-sayyid itu adalah Allah.” Kemudian pria menyatakan lagi kepada beliau: “Engkau itu adalah orang yang paling utama omongannya dari kalangan mereka dan paling agung kedudukanmu. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan: “hendaknya kalian menyatakan tentang aku seperti yang dikatakan oleh Allah (yakni sebagaimana Allah menggelari beliau, yaitu Nabiyullah dan Rasulullah) dan jangan sampai setan menyeret dia kepada tipu dayanya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 4 hal. 24 – 25)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menolak untuk dikatakan sebagai sayyidu Quraisy. Sehingga dipahami oleh sebagian orang bahwa tidak boleh menyebut sayyidina Muhammad. Dan pemahaman yang demikian tidaklah tepat bila melihat kelengkapan hadits ini. Dari kelengkapan hadits ini sesungguhnya kita dapat mengerti bahwa yang beliau tolak adalah sikap memuji-muji yang melampaui batas dan yang demikian ini akan memberi peluang kepada setan untuk menyeret yang dipuji maupun yang memuji dalam perangkapnya. Al-Imam Abu Sa’adat Ibnul Atsir rahimahullah menerangkan tentang hadits tersebut: “Beliau memang sepantasnya menduduki posisi pimpinan. Tetapi beliau tidak suka disanjung di depannya dan beliau lebih suka tawadlu’ (berendah hati)).” (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar jilid 2 hal. 417).

Jadi bukan karena beliau melarang pemberian gelar sayyid bagi beliau karena hadits Nabi shallallahu `alaihi wa sallam yang lainnya menegaskan tentang kedudukan beliau sebagai sayyid:
“Aku adalah sayyid (junjungan) anak Adam pada hari kiamat dan orang pertama yang terbuka kuburnya di hari kebangkitan dan orang pertama yang mensyafaati dan orang pertama yang disyafaati.” (Berkata Al-Imam As-Suyuthi dalam kitab beliau Jam’ul Jawami’ (Al-Jami’ul Kabir): “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu.”)
(Lihat Jami’ul Ahadits, As-Suyuthi jilid 2 hal. 190 hadits 4770)

Maka sesungguhnya mengucapkan sayyidina Muhammad, sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Ali dan selanjutnya adalah boleh, kecuali dalam doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam shalat, seperti shalawat Nabi dalam duduk at-tahiyyat. Nabi kita mengajarkan shalawat itu tanpa kalimat sayyidina Muhammad atau pun sayyidina Ibrahim. Maka kita tidak boleh menambahkan sayyidina ketika membaca shalawat tersebut karena beliau tidak mengajarkannya, sebab Nabi shallallahu `alaihi wa sallam telah bersabda:
“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat.”

Al Ustadz Ja’far Umar Thalib

Wallahua’lam bisshawab

Advertisements

10 responses »

  1. aghita says:

    assalamu’alaykum wr wb,,,

    one question has been answered…….alhamdulillah..^^
    jzakallah khair..

  2. dhanie says:

    Just like my teacher said when i was on high school. ^_^
    but..
    The fact`s become more and more complex on the real world, My Brother..
    It`s our (especially for you.. 😀 ) challenge to tell this truth..
    especially to the elder people whose didn`t recognize these yet..
    ^_^

  3. ipan says:

    sukron ya akhi

  4. sul says:

    Ha ha ha, iki artikel sing tak goleki. Biyen tahu ngerti cuma sepotong potong, gak sengojo ngrukokke soko ceramah sisan. Yo langsung lali ^_^

  5. za ahmed says:

    Mengucapkan “Sayyidina” Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

    الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

    “Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).

    Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

    عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

    “Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).

    Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:

    “Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits ‘saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.’ Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

    Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

    Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?

    لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

    “Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

    Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

    Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي

    Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.

    KH Muhyiddin Abdusshomad
    Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember

  6. Muhammad says:

    Mengenai tasyahud dalam shalat, para sahabat pernah bertanya langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah ini, ada baiknya jika kita mendengar langsung apa yang disampaikan beliau kepada para sahabatnya.

    Para sahabat bertanya : “wahai Rasulullah bagaimanakah kami bershalawat kepada kalian ahlul bait? Karena Allah telah mengajarkan kami bagaimana mengucapkan salam pada kalian” Beliau menjawab : ucapkanlah :

    ” اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد” (متفق عليه)

    Lafal ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ka,b bin ‘Ujroh radhiyallahu ‘anhu (Hadits : 3370). Dan lafal serupa juga beliau riwayatkan dalam beberapa tempat dalam Bukunya “Shahih Bukhari” dari Abu Humaid As Sa’idy dan Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhuma (Lihat misalnya, hadits no : 3369, 4798 dll)
    Selain beberapa sahabat di atas Imam Muslim juga meriwayatkan lafal tasyahud tersebut dari sahabat Abu Mas’ud Al Anshary radhiyallahu ‘anhu (lihat hadits no : 405)

    Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan : “dan lafal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya setelah mereka menanyakan cara bershalawat, dapat dijadikan dalil bahwa lafal shalawat tersebut adalah yang paling utama. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya akan memiliki yang paling mulia dan utama untuk dirinya” (Fathul Bari : 11/166)

    Ada beberapa lafal tasyahud lain yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, namun tak satupun menyebutkan lafal “sayyidina”.

    Setelah panjang lebar menguraikan hukum tasyahhud dan menyebutkan riwayat-riwayat tentang lafal tahiyat, Imam Nawawy rahimahullah mengatakan :

    وَأَكْمَلُهَا أَنْ يَقُولَ: (اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
    Dan yang paling sempurna, ia membaca : (Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad…dst) (Raudhatut Thalibin : 1/265) sesuai riwayat di atas tanpa menyebutkan lafal “sayyidina”.

    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lafal shalawat yang paling utama di dalam shalat adalah sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya dan inilah pendapat yang dirojihkan Imam Nawawi rahimahullah.
    “Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.
    Allahu ta’ala a’lam. Allahumma Shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallim.

  7. Muhammad says:

    Ralat perkataan hafiz Ibnu Hajar :
    tertulis “hanya akan memiliki”.
    yang benar : “hanya akan memilih”

  8. Muhammad says:

    adapun hadits “janganlah kalian mengucapkan sayyidina padaku dalam shalat” sebagaimana yang dinukilkan Pak Kiayi di atas (semoga Allah menjaga beliau).

    Hafizh Sakhowi berkata : “La ashla lahu” (nggak ada dasarnya) alias masuk kategori hadits lemah.

    tapi, para ulama yang mengatakan tidak dianjurkannya mengucapkan “sayyidina” dalam shalat tidaklah mengacu pada hadits ini, namun melihat riwayat di atas dan riwayat-riwayat lainnya yang tidak menyebutkan lafal “sayyidina”.
    Allahu a’lam.

  9. abuhilma says:

    sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shalallohu ‘laihi wa salam, bukan petunjuk syek, habib, kyai, ustadz, yang kebenarannya masih bisa benar bisa salah.

  10. hmjn wan says:

    Ass. Wr. Wb.
    Adanya perbedaan dalam Islam, sebenarnya tidak perlu dipertajam. Sebab dengan memperuncing perbedaan itu tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi ketidak samaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ? Hanya semoga saja jika pengomporan dari dalam, hal itu bukan kesengajaan. Kalau tidak, akhirnya perpecahan yang terjadi.
    Apabila perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar. Sungguh berat memang.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %.
    Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s