Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Al-Maidah[5]:23)

Tawakkal, menurut Al-Ghozali adalah penyandaran hati hanya kepada al-wakil (yang ditawakkali) semata. Sedangkan menurut Al-Munawi, tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali.

Islam mengajarkan bahwa tawakkal harus diberikan hanya kepada Allah; Zat Yang Maha Kuasa atas segalanya. Jika disamping tawakkal kepada Allah kita masih butuh tawakkal kepada selain Allah maka ini adalah syirik.

Contoh tawakkal kepada selain Allah adalah jika kita merasa lebih pas dan lega untuk datang ke dukun (paranormal) dalam membahas masalah rezeki, jodoh, pekerjaan, dan sebagainya. Hal ini adalah syirik dan merusak tauhid. Jadi tawakkal kepada Allah adalah kepasrahan hati hanya kepada Allah.

Allah akan menjamin rezeki kita jika kita bertawakkal hanya kepada-Nya.

Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq[65]:3)

Menafsiri ayat ini, Syekh As-Sa’di menyatakan, “yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya, baik dalam kehidupan agamanya maupun urusan dunianya”. Sedangkan Ar-Rabi’ mengatakan, “(mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia”.

Pada hadits yang diriwayatkan Umar bin Khattab, Nabi bersabda: “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnul Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i, dan Al-Baghawi). Hadits shahih menurut At-Tirmidzi dan Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Abu Hatim Ar-Razi berkata, “Hadits ini merupakan tonggak tawakkal. Tawakkal adalah faktor terbesar dalam mencari rezeki.”

Tawakkal tidak berarti meninggalkan usaha. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Al-Qudha’i, Amr bin Umayyah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah aku ikat dulu untaku lalu aku bertawakkal kepada Allah, ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?”, Rasulullah bersabda: “Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakkallah!”. Inilah bentuk tawakkal yang benar.

Maka Ibnul Qayyim mengatakan: “Tawakkal adalah bersandarnya hati kepada Allah semata. Setelah itu tidak masalah ia melakukan berbagai usaha dengan catatan tidak bergantung kepada usahanya itu, sebagaimana tidak manfaat ucapan seseorang: saya bertawakkal kepada Allah sementara ia bersandar kepada selain-Nya.”

Wallahua’lam bisshawab

(dirangkum dari tulisan M. Mujib Anshor SH pada majalah Qiblati edisi 8 tahun III)

Advertisements

2 responses »

  1. buat warnet says:

    thank’s udah posting ini. Bermanfaat banget’s..

  2. Azhar says:

    sama bhs arabnya skalian, thks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s