
Shalawat Nariyah
September 10, 2008
Shalawat Nariyah adalah sebuah shalawat yang dibaca sebanyak 4444 kali untuk mendapat karomah dari Allah. Menurut K.H. Mahrus Ali dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik”, sumber dan asal-usul shalawat ini tidak diketahui meskipun beliau telah menelaah buku dan kitab hadits, fiqih, dan tasawuf.
Dari segi isi shalawat, kekeliruan shalawat ini terletak pada bagian: “.. Yang dengannya (Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) segala ikatan menjadi lepas, dengannya segala kesulitan akan lenyap, dan dengannya segala keinginan akan tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi.”. Menurut shalawat tersebut yang melepaskan ikatan, dsb adalah Rasulullah, bukan Allah. Hal ini jelas mengandung syirik dan bertentangan dengan ayat-ayat berikut:
“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (Yunus[10]:31).
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Ra’d[13]:14)
Namun demikian, bukan berarti kita anti-shalawat. Kita tetap harus bershalawat pada Rasulullah sesuai dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (Al-Ahzab[33]:56)
dan hadits berikut:
“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” (H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabrani)
Cara ber-shalawat kepada Rasulullah yang terbaik adalah sesuai yang diajarkan Rasulullah pada para sahabatnya. Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah bentuk paling umum dari shalawat. Bentuk shalawat lain adalah
“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi].
Dan masih ada beberapa riwayat lain (termasuk shalawat yang dibaca pada duduk tasyahud) yang menyebutkan bacaan shalawat sesuai yang diajarkan Rasulullah.
Wallahua’lam bisshawab.
Teganya mengatakan sholawat nariyah sesat, syirik !
Published by Syafii on May 20, 2008 06:40 pm under Mencintai Rasullullah dan Ahlul Bait, Artikel Islam, Habib, Renungan
Banyak sekali artikel-artikel yang ditulis oleh segolongan kaum yang mengatakan sholawat nariyah itu sesat, syirik.
Padahal sholawat ini ditujukan untuk Rasulullah, tidak ada yang lain.
Berikut ini jawaban Habib Munzir Al Musawwa mengenai sholawat nariyah
Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,
Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,
saudaraku yg kumuliakan,
mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,
ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.
Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)
semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,
mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.
mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,
demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,
wallahu a’lam
hmm….
@a
jazakallah khair atas comment-nya
semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi qta semua
Saya tau bahwa shalawat itu ditujukan kepada Rasulullah, namun menurut Anda, bolehkah qta memuji seseorang secara berlebihan sampai2 mensejajarkannya dg Allah?
Dari Abdillah bin Asy-Syakhkhir, dia menceritakan bahwa ayahnya menceritakan: Datang seorang pria menghadap Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Pria tersebut menyatakan kepada beliau: “Engkau adalah sayyid Quraisy.” Maka Nabi shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan kepadanya: “Yang dikatakan as-sayyid itu adalah Allah.” Kemudian pria menyatakan lagi kepada beliau: “Engkau itu adalah orang yang paling utama omongannya dari kalangan mereka dan paling agung kedudukanmu. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan: “hendaknya kalian menyatakan tentang aku seperti yang dikatakan oleh Allah (yakni sebagaimana Allah menggelari beliau, yaitu Nabiyullah dan Rasulullah) dan jangan sampai setan menyeret dia kepada tipu dayanya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 4 hal. 24 – 25)
Dari kelengkapan hadits ini sesungguhnya beliau menolak sikap memuji-muji yang melampaui batas dan yang demikian ini akan memberi peluang kepada setan untuk menyeret yang dipuji maupun yang memuji dalam perangkapnya. (untuk lengkapnya silahkan lihat artikel saya mengenai “sayyidina Muhammad”)
Mengenai tawassul kepada Rasulullah bukankah ada riwayat ketika mengalami musim kemarau pada masa pemerintahan Khilafah Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu, para shahabat tidak bertawassul pada Rasulullah dan lebih memilih bertawassul dengan keshalihan paman Rasulullah (yang saat itu masih hidup), yaitu Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Memang masalah ini menjadi perdebatan para ulama’ namun menurut saya alangkah baiknya jika qta mencukupkan diri dengan yang telah disepakati para ulama’. (untuk lebih lengkapnya silahkan artikel saya mengenai “tawassul”)
wallahua’lam bisshawab.
Afwan akh…kalo bleh antum tk kasih info…ana pernah baca buku yg isinya membahas ttg kebohongan2 buku yang dikarang oleh KH. Mahrus Ali,jdulx klo gk slah=Membongkar kebohongan buku ‘Mantan Kiai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik’ karangan KH.Abdullah A.
Dan perlu diketahui juga,trxta KH.Mahrus Ali itu bukan dari NU…
Lebih lengkapx antum baca sndiri…!!!
Afwan…
Wallahua’lam Bishowab……
bukan masalah sapa KH. Mahrus Ali (aq pernah denger tp g seberapa tw siapa beliau, malah g pernah baca bukunya :p )
yg terpenting adalah Rasulullah yg menjadi imam utama dan beliaulah yg tentunya lebih tw mana yg terbaik untuk umatnya.
jika Rasulullah melarang suatu tindakan dan larangan itu tertuang pada hadits yg memiliki sanad yg kuat (shahih atw hasan) maka, sbg umat Islam, sudah selayaknya untuk menghindari tindakan tsb kecuali ada hadits lain dg sanad yg lebih tinggi yg menunjukkan diperbolehkannya melakukan tindakan tsb.
Dan, jika pada akhirnya terjadi perselisihan pendapat antar ulama’, silahkan memilih pendapat mana yg menurut antum lebih baik. Saya hanya menyarankan utk berhati-hati dalam menyikapi perkara2 syubhat dan sebisa mungkin mencukupkan diri dg apa yg dihalalkan oleh Allah.
Wallahua’lam bisshawab..
Saya sudah membaca salah satu buku tulisan KH. Mahrus Ali yaitu yang berjudul ‘ Mantan kiai NU meluruskan ritual-ritual kiai ahli bid’ah yang dianggab sunnah “. Penjelasan yang diberikan cukup jelas dan senantiasa didasari dalil dari al-Qur’an dan hadist shahih yang bisa dicek kebenarannya berdasarkan catatan dari kitab apa hadist itu diperoleh. Memang buku karangan KH. Mahrus Ali yang kebanyakan mengulas tentang dugaan banyaknya kekeliruan amalan yang dilakukan oleh ichwan-ichwan kita yang biasa mengamalkan hal tersebut membuat mereka sakit hati. Baik itu dari golongan bawah yang awam sampai para pemimpin ummatnya. Menurut saya, apa yang dikemukakan dalam tulisan KH. Mahrus Ali merupakan kajian ilmiyyah yang menggugah kita untuk introspeksi diri tentang amal ibadah kita sudah benar sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya apa tidak. Ataukah selama ini kita hanya mengikuti perilaku/amalan ibadah orang tua atau kiai di lingkungan kita tanpa tahu dasar hukumnya. Padahal dalam surat Al-Isra’ ; 36 Allah mengingatkan kita agar jangan melakukan sesuatu amalan yang kita tidak tahu ilmunya. Jika ada perbedaan, kembalikan segala sesuatunya kepada tuntunan Allah (Al-Qur’an yg tidak ada keraguan di dalanya) dan rasulnya (hadits yang shohih tentunya). Jangan diselesaikan dengan cara kekerasan, saling menghujat, menuduh orang dari golongan ini-itu tanpa tabayyun lebih dahulu. Harusnya adakan pertemuan dalam suatu majelis ilmu untuk mengkaji perbedaan itu. Bahas dengan fair, dengan pikiran jernih tanpa didasari keinginan untuk membela golongan. Tujuannya hanya satu ; mencari kebenaran “. Jangan memikirkan kalah atau menang. Jika tetap ngotot……, silahkan amalkan sesuai keyakinan masing-masing, LANA A’MALUNA WALAKUM A’MAALUKUM. Allah-lah yang menilai amalan kita. Tetap jaga ukhuwah sesama muslim.