
I “Won’t” Branding Myself
February 18, 2008Assalamualaikum
Sabtu, 16 Feb 08 aq abis ikut sebuah seminar, ada satu materi yg berputar2 d kepalaku. Materi itu tentang memasang brand image sehingga kita dikenal dengan suatu sebutan yg merupakan ciri pembeda antara kita dan orang lain. Kita tinggal menentukan ingin dipanggil seperti apa, kita berusaha mempelajarinya, kita terapkan dan ajarkan pada orang lain sembari memberi label pada diri kita. Misalnya kita pengen dijuluki entrepreneur, kita tinggal belajar tentang entrepreneurship, kita terapkan dan ajarkan k orang lain tp dengan embel2 pasang nama “Si A-entrepreneur”. That way, lama2 kita dikenal sebagai entrepreneur.
Aq kok kurang setuju y…
Menurutku lebih baik kita belajar sesuai dengan keinginan kita sendiri. Kita belajar karena kita suka dengan ilmu itu, butuh ilmu itu dan ingin ilmu itu bermanfaat buat kita dan orang lain. Kita belajar dg senang hati karena kita emang suka, bukan kita paksakan belajar agar kita dapet masang brand tertentu. Kita ngajarkan k orang karena kita pengen ilmu itu bs bermanfaat bg semua orang, bukan pengen dipuji orang.
Kebahagiaan karena belajar sesuai keinginan sendiri. Dan ketulusan karena mengajarkannya tanpa harapan pujian seseorang. Menurutku dua hal itu yang utama ketika belajar sesuatu. Soal balasan ketika mengajarkan sesuatu insya Allah akan lebih berarti jika kita hanya mengharapkan ridha-Nya setiap melakukan sesuatu. Dan seandainya kita emang ahli, tanpa kita bilang kalo kita ahli, orang lain yang akan masang brand itu sendiri ke kita tanpa perlu disuruh.
Aq adalah aq. Aq lebih suka jadi diriku sendiri daripada harus maksakan jadi ini dan itu tanpa keinginan yg tulus dari hatiku. Mana yg lebih baik dari kedua metode itu? Wallahua’lam. Metode itu hasil pemikiranq sendiri. Aq bukan psikolog dan baru belajar psikologi jadi masih cupu. Hehehe…
Posted in My Minds | Tagged menurut pendapatku |
Brand seseorang didapat karena competence, experience dan contribution. Competence, experience dan contribution ini tentu saja di bidang yang kita minati, kita sukai dan kita tekuni secara ikhlas. Brand personal tidak bisa instan, dan nggak perlu hard marketingpun asal kita punya kontribusi riil kepada masyarakat di bidang yang kita tekuni tadi, kita akan mendapatkan brand personal kita.
Selamat berdjoeang !
Hmm.. Makasih Pak atas nasehatnya. Kliatana emang saya bener2 cupu..
Hehe.. Tp dg begini saya akan terpacu untuk jadi lebih baik
Hontou ni Arigatto..
Menurutku klo ilmu teknis itu bisa belajar sendiri, tapi klo ilmu sosial, atau ilmu yang berkaitan dengan teknik komunikasi atau management bla bla, itu harus diumumin. klo gak, orang gak pernah tau klo kita punya kemampuan itu sehingga gak bisa mbantu orang lebih banyak. =P peace self defence. he he he
Wih… ada pak romi
Iya mas… aku juga kurang setuju kemaren. Rasanya ada yang aneh… aku bukan gak setuju sama brandingnya. Tapi ke suatu hal… entah apa itu, aku lupa
saya sudah dapet brand gembel..
giaman ini!!!
*panik mode on*
: P
Ya… kan tiap orang memiliki visi yang beda buat menunjukkan eksistensi dirinya di dunia…
Ya… selama mas ngerasa nyaman berpikir dan berbuat selama ini, kenapa harus ngikutin orang lain? Kenyamanan kan datangnya dari hati… Jika hati kita setuju dengan apa yang kita inginkan dan lakukan, ya udah… just go!
@lilmessenger: menurutku aq lebih setuju dg pendapatnya p Romi, yg penting competence, experience dan contribution
@gyl: hmm…
@kiki: hwakakakak.. kwapok.. hehe.. peace..
@redtea: yupz, yg penting follow your own heart! makasih!