
Ayo ngaji lagi!!!
February 9, 2008Assalamualaikum
Jumat, 8 Feb 2008.
Tidak seperti jumat biasanya dimana aku sholat jumat di masjid Manarul Ilmi (MMI-ITS), kali ini aku sholat jumat di masjid Al-Irsyad Bangil. Subhanallah… kebetulan khatibnya adalah Ust. Faiz bin Said. Beliau menjelaskan tentang pendidikan dalam Islam.
Pola pendidikan yang diterapkan umat Islam saat ini dilandaskan pada pola materialistis. Sedari kecil kita dididik untuk menjadi pintar sehingga ketika dewasa kita bisa memperoleh pekerjaan yang bagus, kaya, dan bahagia. Pola pendidikan ini melandaskan kebahagiaan dapat diperoleh dengan materi. Sehingga orang tua berlomba-lomba mengajarkan ilmu dunia pada anaknya sampai mengabaikan ilmu tentang Diin. Bukti nyatanya adalah berapa banyak ilmu Diin yang diajarkan di sekolah jika dibandingkan dengan ilmu dunia. Dan ketika dirumahpun orang tua umumnya hanya memberi penekanan pada anak untuk mempelajari kembali mata pelajaran yang telah diajarkan. Jarang ada orang tua yang berusaha menjelaskan Diinul Islam dengan benar ketika anak2 berada di rumah. Akibatnya, jangan heran kalau terdapat banyak umat Islam yang pintar namun tidak ber-Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah. Padahal kesenangan hidup di dunia itu lebih sedikit daripada akhirat (QS. Ar-Ra’d[13]:26).
Berbeda dengan yang diajarkan Luqman kepada anaknya agar selalu bersyukur kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya (QS. Luqman[31]:12-13). Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan dunia-akhirat akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa pada Allah (QS. Yunus[10]:62-64). Jadi tidak ada jalan lain untuk memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat kecuali dengan cara mempelajari Diinul Islam dengan benar kemudian mengamalkannya. Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Ayo bersama-sama kita belajar Islam dan berusaha mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Semoga kita digolongkan Allah sebagai hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri demi meraih ridha-Nya. Amiin.
Wallahua’lam bisshawab.
hmmm . . . .
Tidaklah di berikan kesenangan dunia melainkan hanya sedikit.
Tapi ternyata manusia tidak “tamak” dengan memilih kesenangan yang sedikit ini dari pada kesenangan yang abadi.
-little messenger-